Latest Entries »

Amenangi zaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Melu edan ora tahan
Yen tan melu anglakoni
Boya keduman milik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah kersaning Allah
Begja begjaning kang lali
Luwih begja kang eling lan waspada

Dalam Bahasa Indonesia Kidung Sinom itu kurang lebih sebagai berikut :

Menyaksikan zaman edan
Tidaklah mudah untuk dimengerti
Ikut edan tidak sampai hati
Bila tidak ikut
Tidak kebagian harta
Akhirnya kelaparan
Namun kehendak Tuhan
Seberapapun keberuntungan orang yang lupa
Masih untung (bahagia) orang yang (ingat) sadar dan waspada

Demikianlah bapak saya melantunkan Kidung Sinom legendaris karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, pujangga besar Keraton Surakarta ini, dalam acara macapatan malem Selasa Kliwonan di Pendapa Taman Siswa Ibu Pawiyatan Yogyakarta.

Bapak melagukan macapat bergantian dengan teman-temannya, para guru Taman Siswa, seperti Ki Padmo Puspito, Ki Sindu Sisworo, Ki Nayono, Ki Hadi Sukatno dan Ki-Ki yang lain. Semuanya adalah murid sekaligus pengikut setia Ki Hajar Dewantara (KHD), bapak pendidikan kita sekarang.

Para murid ini berbusana mirip gurunya, peci hitam di kepala, kaos oblong putih yang ditutup jas drill putih kasar (baju dan kain halus waktu itu selain mahal juga jarang ada), bawah sarung kotak-kotak atau batik, dan sandal kulit hitam bersilang di depan yang khas KHD.

Konon KHD, selain menhadiri sendiri acara macapatan murid-muridnya yang disambung diskusi membahas ajaran-ajaran dan falsafah dari para pujangga besar Jawa itu, juga sering mengadakan pula pertemuan malam hari dengan tiga orang temannya yang se”kaliber”.

Mereka adalah Ki Mangun Sarkoro, dan dua lagi yang aku lupa karena hanya mendengar dari cerita bapak. Pertemuan diskusi itu bertempat di suatu “bulak” yang sepi di utara Yogya, dan ada sumur kuno yang misterius di “bulak” itu.

Tempat itu kemudian menjadi Bulaksumur, yang kemudian terkenal karena menjadi lokasi universitas terbesar dan tertua di negara kita. Universitas Gadjah Mada. Konon KHD dan tiga rekannya itu ikut membidani lahirnya universitas “Kampus Biru” ini. KHD itulah yang meramal, diwaktu usia saya baru lima tahun, bahwa kelak saya akan menjadi “dokter yang merakyat”.

Acara rutin macapatan selasa kliwonan di pendapa itu berlangsung sejak tahun 1947, sesudah kemerdekaan, di kala saya belum lahir, sampai tahun 60an. Distitu KHD “medar sabda”, memberikan ajaran-ajarannya. Ajaran-ajaran ini kemudian dituturkan bapak kepada saya, selain diajarkan pula oleh guru-guru saya di SD Taman Siswa, Taman Muda.

Ajaran ketamansiswaan yang tak kumengerti benar. Seperti Panca Dharma, Sistem Among, inti falsafah mikul dawet rengeng-rengeng, neng-ning-nung-nang, nglurug tanpa bala memang tanpa ngasorake, ngeli ning ora keli, tut wuri handayani, dll.

Puluhan tahun kemudian, baru saya sadar bahwa KHD, sebagai orang yang pernah mempelajari ilmu kedokteran dan psikologi, bahkan sampai ke negeri Belanda, telah mempelajari pula filsafat barat dan timur. Filsafat timur inilah, khususnya India dan Jawa, yang mendasari konsep-konsepnya dalam ilmu pendidikan untuk mendidik bangsanya yang terjajah.

Di waktu itu tentu saja, dengan konsep pendidikan bangsa ini KHD secara halus menentang dan melawan penjajah Belanda.

Kemerdekaan individu sebagai hak azasi manusia, persamaan derajat bangsa, kecintaan pada ilmu dan budaya bangsa, sistem among untuk membebaskan murid-murid mengembangkan diri secara “mardika”, adalah inti ajaran KHD. Tut wuri handayani, Ing madyo mangun karsa, Ing ngarso sung tulada, kemudian menjadi motto dunia pendidikan kita sekarang.

Proses belajar-mengajar di alam bebas, di bawah pohon beringin rindang, di tepi sungai, di pinggir sawah, gaya tokoh pendidikan India, Rabindranath Tagore, kemudian ditiru KHD. Perguruan Santiniketan yang didirikan Tagore di India, menginspirasi KHD untuk mendirikan perguruan Taman Siswa nya.

Suatu areal luas dengan Pendapa di bagian depan untuk olah seni budaya, halaman luas sekelilingnya untuk bermain, kemudia deretan kelas kelas dari TK sampai Sekolah Guru dan Universitas, dengan rumah-rumah pamong (guru) berjejer di belakang untuk mengawasi murid-muridnya, adalah konsep Taman Siswa yang mirip Santiniketan.

Dan di salah satu rumah guru itulah, di belakang pendapa Taman Siswa, di kampung Wirogunan Yogyakarta, saya dilahirkan, delapan tahun sesudah kemerdekaan RI.

Kini setelah usia saya lewat setengah abad, dan bapak telah tiada, tiba-tiba saya ingin mendokumentasikan, dengan sedikit analisis, semua ajaran falsafah Jawa dalam khasanah ketamansiswaan KHD yang diajarkan bapak tersebut. Saya cari dan teliti kembali semua catatan bapak, buku-buku tua warisan bapak tentang falsafah Jawa, bundel majalah bahasa Jawa (kalawarti) Mekar Sari dan Joko Lodang, tulisan-tulisan KHD yang sudah dibukukan, dll.

Tapi seperti juga KHD, saya mempelajari subyek studi falsafah Jawa ini seperti mempelajari ilmu kedokteran barat , psikologi dan filsafat. Artinya dengan suatu distansi, jarak afektif, antara siswa dengan bidang studinya. Tidak lalu menjadi “penghayat”.

Meski demikian, karena saya dilahirkan di kompleks Taman Siswa, dengan kedua orangtua saya adalah guru Taman Siswa, dengan sekolah TK dan SD di Taman Siswa, mau tidak mau unsur “kejawen” dan “ketamansiswaan” sedikit banyak sudah membentuk diri saya.

“Sebagai anak Taman Siswa, sekian persen falsafah Jawa, Kejawen dan ketamansiswaan sudah “built in” dalam dirimu, nak” kata Ki Hadi Sukatno, guru saya kesenian, juga bapak dari sahabat saya Priyo Mustiko, yang mashur dengan “gending-gending dolanan” ciptaannya yang menjadi “trade-merck” Taman Siswa.

***********

Dalam bukunya “Ilmu Slamet”, Daldiyono (2010) menyebutkan bahwa pujangga besar Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Ranggawarsita, merumuskan keadaan masyarakat pada waktu tertentu menjadi tiga zaman : Kalathida, Kalasubha, dan Kalabendhu. Pembagian ini dapat diterapkan pada keadaan kehidupan setiap orang. Apakah nasib orang saat ini dalam keadaan Kalathida, Kalasubha atau Kalabendhu.

Umumnya orang Jawa menggambarkan situasi masyarakat Indonesia saat ini sebagai keadaan Kalathida yang lazim disebut Zaman Edan atau zaman kacau, seperti yang tertulis pada Kidung Sinom diatas.

Kehidupan dalam situasi Kalathida serba tidak menentu. Keadaan tiada aturan atau pedoman yang dapat dituruti. Atau, dapat saja orang tahu aturan, tetapi hidup sesukanya sendiri. Aturan yang ada tidak dituruti. Banyak pertengkaran terjadi karena orang lebih mengumbar maunya sendiri.

Rakyat terlantar karena ulah para pemimpin yang suka berselisih. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh siapa pemenang pergolakan. Bila orang baik mampu mengalahkan orang jahat, masyarakat akan baik, naik tingkat ke dalam keadaan sejahtera yang disebut zaman Kalasubha.

Namun bila si jahat yang menang (“orang jahat diberi hormat, orang pandai tiada terpakai”), masyarakat menjadi rusak berantakan, dan itu disebut zaman Kalabendhu.

Daldiyono (2010) berpendapat, bahwa puncak Zaman Kalatidha di Indonesia kira-kira terjadi pada periode Krisis Moneter, 1997 – 1998. Tapi menurut Sutrisno Puspodikoro, bapak saya, Kidung Sinom Ranggawarsita itu bersifat universal dan langgeng, abadi. Bisa berlaku setiap dan sepanjang zaman. Karena setiap zaman, seperti zaman revolusi, zaman proklamasi kemerdekaan, zaman Sukarno, zaman Suharto, dan zaman reformasi, mempunyai “ke-edanannya” sendiri. “Itulah kejeniusan empu Sala Ranggawarsita itu le”, kata bapak saya itu, yang diamini teman-temannya guru, Ki Sukirman dan Ki Sasmo.

Sukatno Cr (2006) dalam bukunya “Ramalan-Ramalan Edan Ronggowarsito” menterjemahkan dengan : mengalami di zaman yang edan (gila), akan senantiasa kebingungan dalam menentukan sikap. Tapi kalau tidak ikut arus, tak akan mendapat bagian (terakses segala kepentingan sosial, ekonomi, politik dan budaya atau pergaulan), yang ujung-ujungnya hanya akan kelaparan. Namun karena sudah menjadi kehendak (takdir) Tuhan, sungguh sebahagia dan seberuntung-beruntungnya manusia yang lupa diri, masih akan beruntung orang yang senantiasa eling (sadar) dan waspada.

Syair yang sangat indah dan alegoris karya pujangga besar Kraton Surakarta ini melegenda dari zaman ke zaman. Kidung Sinom ini menggambarkan kesemrawutan nilai “sosial, ekonomi, politik dan budaya” – berikut nilai moral, etik, kesusilaan, dan nilai humanisme – yang terjadi di lingkungan sosial, kultural dan politik makro yang mencoba diidentifikasi dan mengidentifikasi dirinya di tengah arus “kesemrawutan tata nilai” yang didesain dan sekaligus mendesain masyarakat pendukungnya.

Ia menjadi semacam sistem, tata laku dan pola perilaku yang muaranya berdampak pada hancurnya kredibilitas nilai manusia dan kemanusiaan kita. Sebagai manusia produks masyarakat dunia ketiga dengan mentalitas urbannya – yakni mentalitas transisional terlepas dari sistem kolonial menuju independensi, kebebasan dan demokrasi secara ideal yang ternyata tak kunjung menampakkan wajah praksisnya – biasanya akan terjatuh pada situasi nadir seperti itu.

Sistem nadir transisional dalam ketegangan antara rusaknya “mentalitas masyarakat” dengan keinginan terbentuknya sistem ideal yang tak kunjung dirasakan. Lewat syair diatas, Ranggawarsita jelas menyuarakan kerusakan moral parah itu yang disebabkan antara lain oleh penyakit sosial korupsi, kolusi dan nepotisme dari mentalitas urban.

Fenomena itu ternyata menjadi fenomena abadi yang terjadi tak hanya di masa Ranggawarsita hidup, tapi juga di masa kini. Seperti dalam Kalatidha : Sinom:2, di mana Ranggawarsita menyatakan :

“Ratune ratu utama, patihe patih linuwih, pra nayaka tyas raharja, penekere becik-becik, parandene tak dadi paliyaseng Kalabendhu, malah sangkin andadra, rubeda kang angribedi, beda-beda ardane wong sanagara”

Raja atau kepala negaranya raja yang utama, patih atau wakil dan menteri-menterinya sangat sakti dan utama (linuwih) – para pejabatnya bagus-bagus, penekar (ulama dan intelektualnya) baik-baik. Tapi kenyataannya tak dapat menjadi sarana untuk memperbaiki dan membendung datangnya zaman Kalabendhu – zaman yang banyak bebendu, kelicikan, kebohongan, dan kehancuran. Justru malah semakin menjadi-jadi, sangat merepotkan, karena adanya berbagai macam keinginan yang tak jujur, kemunafikan, dan perilaku serakah dari manusia di seluruh negeri tanpa kecuali.

Inilah sindiran tajam sang pujangga Surakarta itu yang diungkap dalam Kalatidha, dalam metrim sinom. Para pemimpin (raja), wakil dan menteri-menterinya serta seluruh jajaran aparat birokrasinya orang-orang yang hebat-hebat. Intelektualnya profesor doktor semua, ulamanya shalih-shalih. Tapi begitu masuk ke dalam sistem dan berbenturan dengan kepentingan, lalu etika, kesantunan, kearifan, kejujuran dan moralitas dikesampingkan demi keuntungan pribadi atau kelompok, tentu hanya akan menuai kerusakan dan kehancuran nilai kehidupan.

Tapi R.Ng.Ranggawarsita, yang hidup sejaman dengan Sigmund Freud di Wina (lebih dari 100 tahun lalu), juga memberikan pedoman bagaimana menghadapi persoalan-persoalan berat dan kompleks yang menyangkut sistem sosial-kultural dan politik makro yang dihadapi bangsanya.

Prinsip utama yang ditawarkannya adalah dengan selalu mengedepankan konsep eling lan waspada. Yaitu selalu ingat, awas dan waspada. Selalu eling terhadap ketentuan yang Tuhan Yang Maha Kuasa (Gusti Kang Murbeng Dumadi).

Selain itu harus selalu disertai awas dan waspada dalam perilaku dan tindakan terhadap munculnya berbagai bentuk perubahan, baik dalam skala lokal, nasional maupun internasional (global). Juga terhadap segala perubahan yang bergerak dari khasanah ekologi global.

Dengan bentuk ke-eling-an dan kewaspadaan itulah kita akan dapat menentukan bagaimana ketika harus bertindak, mengidentifikasi, mengapresiasi dan merepresentasikan diri kita, dihadapan berbagai problem dan persoalan kehidupan sosial masyarakat kebangsaan makro sekaligus global tersebut, secara lebih pas, jujur dan membumi sesuai dengan kebutuhan, dan kepentingan seluruh masyarakat bangsa.

Di samping makna esensial dari “visi moralitas bangsa” yang digagas oleh R.Ng.Ranggawarsita dalam serat-serat Jangka/Ramalannya, pujangga itu juga meninggalkan “ramalan” tentang “hari kematiannya sendiri”, tertulis dalam Serat Sabdajati yang sampai sekarang tetap menjadi misteri dan kontroversi.

Ada pendapat peneliti yang menyatakan bahwa kematian Sang Pujangga dikehendaki oleh penguasa atas desakan dari penjajah Belanda waktu itu. Ini disebabkan oleh kuatnya pengaruh pemikiran Ranggawarsita terhadap nasib bangsanya yang, sedikit banyak mengancam stabilitas kekuasan Belanda waktu itu. Artinya, saat Ranggawarsita menuliskan Serat Sabdajati, yang diidentifikasi sebagai karyanya yang terakhir, ia berada dalam tahanan dan sudah tahu kapan hari H eksekusinya akan dilaksanakan.

Yang jelas, jika kematian Ranggawarsita memang benar dikehendaki penguasa dan pemerintah Hindia Belanda, maka posisi Pujangga besar ini dalam perjuangan bangsa Indonesia menjadi sangat strategis. Ia layak diangkat menjadi salah satu Pahlawan Bangsa.****

Lukisan "Dua Gadis" di Jogya Art Festival, Pameran senirupa di Taman Budaya Jogya 2010 - dok.pribadi

Lukisan "Dua Gadis" di Jogya Art Festival, Pameran senirupa di Taman Budaya Jogya 2010 - dok.pribadi

Adalah sangat wajar bila setiap orang yang mengalami bencana alam hebat yang mencancam diri dan keluarganya, rumahnya dan harta bendanya mengalami ketakutan, kecemasan, kebingungan dan panik dan tak tahu apa yang harus dikerjakan selain lari entah kemana. Saya pun mengalami sendiri dulu ketika gempa Bantul yang dahsyat yang menewaskan 7.000 orang, rumah saya di Jogya utara ikut bergetar dan saya lari keluar mengajak seluruh keluarga saya.

Kemudian isu “Tsunami” menyebar secepat kilat dan saya bersama seluruh tetangga panik, katanya air bah sudah sampai Tugu. Sayapun membawa anak-anak saya dengan mobil lari ke utara, dan istri saya dengan mobil lainnya malah ke selatan, dan akhirnya kami semua toh terhenti di jalan karena jalanan penuh manusia yang semuanya panik dan kebingungan.

Namun ketakutan dan kebingungan masal seperti itu hanya berlangsung sebentar, beberapa jam sampai 2-3 hari saja. Inilah yang disebut Stres Akut. Pedoman diagnostik psikiatri Indonesia (PPDGJ-III) yang mengadopsi Eropa (ICD-10) menyebutkan bahwa, pada Reaksi Stres Akut ini harus ada kaitan waktu yang jelas antara terjadinya pengalaman stressor dahsyat (fisik atau mental) dengan onset dari gejala, biasanya setelah beberapa menit atau segera setelah kejadian.

Selain itu ditemukan pula gejala campuran yang biasanya berubah-ubah, seperti gejala awal berupa keadaan “terpaku”, diam tak tahu apa yang dikerjakan, kemudian semua gejala berikut yang bisa muncul : kecemasan (anxietas), kemarahan, depresi, kekeecewaan, overaktif, agresif dan menarik diri. Akan tetapi, tidak satupun dari gejala-gejala itu yang berlangsung lama.

Pada kasus-kasus yang dapat dipindahkan dari lingkup stressornya (misalnya dari zone bahaya seperti Dukun atau Srumbung di Magelang, kecamatan Cangkringan di Sleman atau Manisrenggo di Klaten, dipindhkan ke TPS-TPS di kota yang aman), gejala-gejala dapat menghilang dengan cepat hanya dalam beberapa jam saja.

Bila stres menjadi berkelanjutan karena individu tak bisa dipindahkan, gejala baru mereda biasanya setelah 24-48 jam atau biasanya menghilang dalam 3 hari. Kerentanan individdual dan kemampuan menyesuaikan diri memegang peranan dalam timbulnya atau berat ringanya suatu Reaksi Stres Akut.

Karena itu pada individu-individu tertentu Stres Akut bisa berkepanjangan sampai beberapa hari sampai minggu. Bila dalam beberapa bulan gejala ini berlanjut, atau mereda dulu dan kemudian muncul gejala-gejala khusus, seperti (1) perasaan seakan “mengalami kembali” (reexperiencing) kejadian itu karena dipicu stimulus yang mirip dengan stressor dahsyat itu, timbulnya bayang-bayang atau mimpi kejadian traumatik tersebut secara berulang-ulang (flashback); (2) penderitaan dan reaktivitas psikologis saat terpapar dengan tanda yang menyimbolkan aspek kejadian traumatik dahsyat itu; (3) penghindaran stimulus yang berhubungan dengan trauma hebat itu (misalnya melihat lokasi rumahnya yang sudah tertutup tanah dan pasir, mendekati zone bahaya meski sudah dinyatakan turun status siaganya); (4) usaha untuk menghindari pikiran, perasaan, percakapan yang berhubungan dengan trauma; (5) gejala peningkatan kesadaran seperti kesulitan untuk tidur atau banyak tidur, iritabilitas atau ledakan kemarahan, sulit berkonsentrasi, gampang kaget dan kewaspadaan berlebihan, maka hal ini disebut gangguan StresPaska Trauma.

Pedoman diagnostik Eropa (ICD-X) membatasi bahwa diagnosis baru bisa ditegakkan bilamana gangguan ini timbul dalam kurun waktu 6 bulan setelah kejadian traumatik berat. Sedang pedoman diagnostik Amerika (DSM-IV) tidak membatasi hal itu, mungkin karena pengalaman para psikiater Amerika yang mengamati gejala Stres Paska Trauma itu bisa timbul beberapa bulan lebih cepat setelah terjadinya peristiwa traumatik. Pedoman mereka hanya menyatakan bahwa bila lama gejala kurang dari 3 bulan, disebut Akut, dan jika lama gejala 3 bulan atau lebih disebut khronik. Bila kurang dari satu bulan, disebut Stres Akut saja.

Bila saat kejadian traumatik dan onset gangguan melebihi waktu 6 bulan, disebut Stres Paska Trauma “Tertunda”. Suatu “sequelae” atau sisa gejala menahun yang terjadi lambat setelah stres yang luar biasa, misalnya beberapa puluh tahun setelah trauma, bisa terjadi. Seperti orang-orang Belanda tua yang tinggal di negerinya dan mengalami perasaan “seakan-akan” mendengar derap sepatu dan teriakan-teriakan serdadu Jepang yang dulu, puluhan tahun lalu, menyiksanya di kamp-kamp Jepang di Indonesia. Ini menyebabkan gangguan konsentrasi, sedih, kecemasan, dan kemarahan yang tak terkendali.

Konsep psikodinamik dari Stres Paska Trauma menyatakan bahwa individu tidak mampu untuk memproses atau merasionalisasikan trauma yang mencetuskan gangguan. Mereka terus mengalami stres dan berusaha untuk tidak mengalami kembali stressor itu dengan teknik menghindar. Sesuai dengan kemampuannya, individu akan mengatasi hal itu secara kognitif, ia akan mengalami periode “mengakui” dan “menghambat”nya secara berganti-ganti.

Sedang model psikoanalitik dari gangguan ini menghipotesiskan bahwa trauma hebat itu telah “mereaktivasi” konflik yang sebelumnya telah mengendap dan belum terpecahkan, dengan peristiwa hebat ini Ego hidup kembali dan berusaha menguasai serta menurunkan kecemasan.

Lalu bagaimana bila anda mengalami bencana dahsyat itu dan mengalami Stres Akut? Tak perlu cemas,dalam waktu 2-3 hari, bila ancaman bencana itu menurun, gejala ketakutan, panik, cemas berdebar-debar, tak bisa keluar suara, berkeringat dingin, dan tubuh kaku-kaku, akan menghilang dengan sendirinya. Tapi bila berkepanjangan, upaya terbaik adalah relaksasi fisik dan mental. Inilah cara untuk menenteramkan diri.

Duduklah dengan enak, atau selonjor dilantai, pejamkan mata, kedua tangan lurus kedepan lalu pelan-pelan diangkat naik sambil menarik nafas sedalam mungkin, lalu pelan-pelan tangan diturunkan sambil hembuskan nafat sekuat-kuatnya. Waktu menarik nafas, tahan sebentar, bayangkan masa-masa yang indah dimasa lalu, anda bahagia karena seakan mengalami kembali masa itu, lalu hembuskan nafas. Demikian berulangkali. Inilah yang dikerjakan rekan-rekan saya Tim Keswa RSJ yang datang ke TPS-TPS yang ribuan pengungsinya.

Petugas Tim Keswa RSJM memimpin Senam Terapi Relaksasi bagi dewasa dan anak2 di TPS Mungkid Magelang, Nop 2010 - dok.pribadi

Pada Gangguan SPT bila karena dipicu oleh suatu hal kenangan mengerikan itu timbul lagi dan anda panik seakan mengalaminya kembali, maka cepat pejamkan mata, ambil sikap relaksasi, tarik nafas dan bayangkan masa-masa indah di saat kecil atau muda, maka hal-hal indah menyenangkan ini akan menindas atau menandingi bayangan mengerikan itu. Anda tak perlu menolaknya, anda harus “menerimanya” sebagai bagian dari hidup anda. Sebagai sisi-sisi gelap tersembunyi dari masa-masa luar biasa indah yang anda miliki. Maka, Insya Allah, kenangan traumatis mengerikan itu tak bisa mengganggu anda lagi dan akan hilang untuk selamanya. Obat anti depresan dan anti cemas dari psikiater akan sangat bermanfaat pula, mungkin harus diminum jangka panjang bila masih dibutuhkan.****

Saya datang ke Tempat Pengungsian Sementara (TPS) Tanjung Muntilan itu siang hari jam 14.00, diiringi 10 perawat saya dari RSJ dan 2 psikolog. Kami mengadakan acara “psychological first aid” atau pertolongan pertama psikologis pada para pengungsi Merapi di TPS ini. Terdaftar ada 1137 orang pengungsi, sekarang tinggal 700an. Dan siang itu yang ada Cuma 300an, para laki-laki dan pemuda balik ke desanya Srumbung untuk memperbaiki rumah dan melihat kebun salaknya, sore hari mereka kembali.

Para perawat jiwa segera membangunkan seluruh penghuni yang sedang “leyeh-leyeh” tiduran, menyiapkan loudspeaker, untuk mengajak Senam Terapi Relaksasi Hipnotis. Lalu seluruh penghuni TPS pun bersenam mengikuti contoh dan aba-aba dua perawat lai-lai dan wanita yang memimpin. Gerak anggauta badan cepat, lambat, cepat, lambat, tahan, melambat lagi, pejamkan mata dan perawatpun mulai mengucapkan kata-kata yang mantab tapi lembut, dengan narasi khusus yang “menghipnotisir” para pengungsi, untuk bisa ikhlas menerima keadaannya. Untuk bisa menerima dengan rela dan senang hati kebun salaknya yang hancur kena awan panas Merapi, dan rumahnya yang rusak, hewan ternaknya yang mati. Untuk bisa melepaskan beban mentalnya dan menyerahkan segala-galanya pada Tuhan.

Selesai senam pikiran jadi ringan, perasaan jadi “plong” agak gembira, dan tubuh jadi segar. Tak ada yang mengantuk. Lalu semua duduk santai berselonjor dalam lingkaran-lingkaran kecil. Para perawat membagikan selembar angket sederhana berisi 29 aitem Rapid Assesment. Sambil mengisi para perawat minta ibu-ibu itu untuk menceritakan pikiran dan perasaannya. Apa saja yang dirasakannya terkena bencana ini.

Kadang para perawat saya mengelus atau menepu-nepuk halus pundak ibu-ibu itu untuk menunjukkan empatinya. Para pengungsi merasa sedikit lega, dan gembira, ada orang yang bisa mendengarkannya dengan telaten, bisa memahami beban mentalnya, bisa memberikan sedikit saran yang membangkitkan semangatnya untuk hidup. Untuk membangun rumah dan sawah kebunnya kembali. Inilah “psychological first aid” pada korban bencana alam!

Setelah angket diisi lalu di skor oleh para perawat itu, yang skor nya di atas 10 diserahkan ke saya untuk saya wawancara lanjut, saya diagnosis dan saya beri terapi, bila perlu dengan obat-obat psikofarmaka yang saya bawa dari RSJ. Saya sendiri duduk berbincang-bincang dengan dengan lima belas ibu-ibu dan bapak tua yang telah mengisi angket.

“Sampun mirsani dalemipun bu?”, tanyaku hati-hati.
“Ah, dereng Pak, nika bapake lare sing mrika. Sedaya sami risak”, jawabnya.
“Njih mangke rak saged didandosi ta bu”, kataku lagi.
“Ahh, dangu Pak Dokter. Mboten gada ragad. Ngrekaos”, ibu itu mengeluh dengan sedih.
“Alah yu, mengko rak ya ana rejeki. Karang ya iki kabeh wia kersane Gusti. Awake dewe mung saderma nglakoni. Anggere usaha, mengko rak ya ana dalan”kata ibu-ibu disebelahnya yang mengagetkan saya.
“Lha kados pundi Pak. Kebon salak kula sadaya risak kebesem. Le ngarep-arep pun dangu, sakniki mboten ngukup”, kata ibu yang pertama tadi.
“Ya ora ta nek rusak kabeh. Isih ana sing isa dislametke. Awake dewe ki ra kena ngresula terus. Wong iki wis kersane Pengeran. Awake dewe kudu isa nrima, kudu rila. Yen isa nrima, neng ati kepenak, sesuk isa nandur salak meneh nek Merapine wis lerem”, kata ibu-ibu yang lain.

Hebat, pikir saya. Inilah salah satu falsafah hidup Jawa, mirip dengan yang dihayati oleh para korban gempa Bantul tahun 2006 dulu.

***********************

Depresi adalah suatu gangguan mental yang paling sering terjadi pada para korban bencana alam dahsyat, seperti erupsi Merapi ini yang lebih hebat dari tahun 1930 dulu. Sesudah depresi, baru Stres Paska Trauma. Depresi berupa perasaan sedih yang berat berkepanjangan, putus asa, merasa tak tertolong lagi. Biasanya karena kehilangan sesuatu yang dicintai. Apa saja. Kehilangan anggauta keluarga, rumah, sawah ladang, ternak dan harta benda. Kehilangan kebersamaan hidup sekeluarga dengan tetangga, dan kehilangan kecantikan atau kegagahan karena luka bakar.

Gangguan mental yang bisa menjurus ke bunuh diri ini bisa cepat ditanggulangi dengan obat-obat antidepresan yang akan menyeimbangkan neurotransmiter di otak. Tapi tanpa suatu sikap atau pandangan hidup manusia itu, atau saran-saran psikologis yang membantu penderita untuk membangkitkan motivasi hidupnya kembali, jiwa yang sudah terangkat dengan obat itu akan “ambleg” kembali. Obat anti depresan juga hanya diminum paling lama 3 bulan. Sesudah itu penderita harus menahan gejala depresinya muncul lagi dengan kekuatan mentalnya sendiri.

Salah satu sikap mental yang telah terbukti secara ilmiah bermanfaat untuk mengurangi atau malah menghilangkan depresi adalah suatu sikap hidup Jawa, yaitu Rila, Sabar, dan Narima. De Jong, dalam penelitiannya pada orang Jawa yang ditulis dalam “Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa” menyebutkan, bahwa yang dimaksud Rila adalah keichlasan hati dengan rasa bahagia dalam menyerahkan segala miliknya, hak-haknya dan semua buah pekerjaannya kepada Tuhan, dengan tulus ikhlas, karena mengingat bahwa semuanya itu ada di dalam kekuasaan Tuhan maka dari itu harus tiada satupun yang membekas di dalam hati.

Sedang Sabar, De Jong menulis, adalah broadmindedness, kelapangan dada, dapat merangkul segala pertentangan, dapat menerima segala bencana yang menimpa. Kesabaran itu laksana samudera yang tidak bertumpah, tetap sama, sekalipun banyak sungai dengan segala isinya bermuara kepadanya.

Dan Narima adalah merasa puas dengan nasibnya, tidak memberontak, menerima dengan rasa terima kasih. Narima berarti ketenangan afektif dalam menerima segala sesuatu dari dunia luar, harta benda, kedudukan sosial, nasib malang atau untung.

Banyak orang heran, termasuk saya, dengan kemajuan pesat masyarakat Bantul dalam membangun daerahnya. Rumah-rumah dan gedung perkantoran semua dibangun lebih megah dari sebelum gempa, dalam tempo kurang sebih setahun. Ketika saya mengadakan penelitian kesana, dengan mewawancarai banyak orang, saya temukan jawabnya.

Petugas Tim Keswa BSB2K RSJM memimpin Terapi Senam Relaksasi Hipnotis di TPS Ndeyangan Mungkid Magelang, Nop 2010.

Petugas Tim Keswa BSB2K RSJM memimpin Terapi Senam Relaksasi Hipnotis di TPS Ndeyangan Mungkid Magelang, Nop 2010.

Semua hal yang ada dalam pikiran dan kegiatan orang-orang Bantul ini ujung-ujungnya bermuara (atau berakar) pada ketiga hal falsafah hidup Jawa tersebut. Hal ini saya susun ssebagai makalah yang saya presentasikan dalam Kongres Psikoterapi Asia-Pasifik tahun 2008 di Jakarta, yang mendapat sambutan hangat justru dari para psikiater barat (luar negri). Ketiga hal inilah yang terbukti bisa mengentaskan masyarakat dari depresi massal akibat bencana alam yang menghancurkan segala-galanya.***

Tidak. Tidak, kami sudah berusia lebih dari setengah abad dan tak layak untuk melakukan adegan berlari dan bertabrakan berpelukan di tengah pada “sunflower” seperti Marsello Mastroiani dan Sophia Loren. Kami hanya tegang gemetaran berhadap-hadapan dalam jarak tiga langkah di tengah padang strawberry.

Sementara itu rombongan pasien-pasienku dan para perawat berlari-larian mendekat. Ada apa itu? Mengapa pak dokter mau duel dengan seorang ibu-ibu cantik dengan tiga gadis pembantunya? Apa ada kesalahan dengan enam pasienku yang beringas itu? Mas Sunanto, kepala bangsalku, tergopoh-gopoh mendekat.

“Ya, Sum, ini aku…” aku mengulurkan tangan kananku yang bergetar untuk bersalaman. Sumi perlahan maju dua langkah. Matanya terbeliak dengan perasaan campur baur. Ia maju selangkah lagi dan tiba-tiba tubuhnya melemas. Ia menjatuhkan tubuhnya ke dadaku, wajahnya terbenam di dadaku. Kedua tangannya melilit erat pinggangku. Kurasakan sedu-sedannya. Tangankupun mengelus rambutnya yang sudah mulai memutih.

Saat itulah terdengar ledakan sorakan membahana dari ketigapuluh empat pasienku bagaikan pekikan perang Indian Apache dengan tarian perang mereka dalam kisah Karl May. Mereka nerteriak-teriak dan melonjak-lonjak kegirangan. Ketiga gadis itu melongo keheranan.

Keenam belas perawatku laki dan wanita yang sudah “siap siaga” jadi tersenyum-senyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan dokternya yang lebih gila dari pasien-pasiennya. Tapi adegan itu hanya berlangsung tak lebih dari satu detik, kami cepat melepaskan diri dan saling bertanya-tanya.

“Oh, jadi kau kerja di RSJ yang besar itu. Kebetulan. Kemarin siang seorang pasienmu ditemukan tergolek lemas kelaparan di bawah pohon sana. Oleh penduduk dibawa ke rumahku dan sekarang menumpang di rumahku”,. Suara Sumi yang lembut disamput pekik peperangan kedua kalinya dari pasien-pasienku yang mendengarnya.

“Heh, Wagiman disini. E,E, Wagiman nginap si rumah ibu itu! Ha ha, kecandak kowe Man! Wah, wah, aku wis kangen ro Wagiman je!”. Pasien-pasienku kegirangan tak terduga telah menemukan teman yang mereka sayangi itu di sini. Para perawat mengangguk-angguk lega Pasien yang masih menjadi tanggungjawabnya itu ternyata telah ditemukan selamat dan sekarang berada di tempat yang tepat. Wanita yang pasti teman lama dokternya. Entah siapa itu.

Sumi lalu mengajak kami semua ke rumahnya. Sebuah rumah desa kuna yang mungil dengan halaman luas ditepi jalan nun disana. Kami berjalan berombongan di pematang yang membatasi kebun-kebun strawbwerry dan kebun sayur mayor.

Aku menceritakan riwayat pekerjaanku. Dari Timor Timor lalu sekolah spesialisasi lalu ke RSJ, dan tentang keluargaku. Sumi pun bercerita tentang pekerjaan dan keluarganya.

Setelah lulus ia ke Jakarta menumpang di rumah Bu Liknya, melamar jadi asisten dosen di fakultas filsafat terkemuka disana. Ia mengambil S3 ke Belanda, lalu kawin dengan pembimbingnya, seorang professor filsafat. Suaminya itu telah meninggal sepuluh tahun lalu. Sumiyati sendirian membesarkan kedua anaknya.

Yang pertama wanita, sekarang telah kuliah filsafat di fakultas ibunya. Yang kedua laki-laki, baru saja masuk di fakultas kedokteran di Yogya. Sumi dua bulan sekali dating ke Ketep ini, menengok rumah warisan kakeknya. Untuk menulis sambil menengok anaknya yang kuliah di Yogya.

“Anakku itu bisa menemukan tentangmu di internet Nuk. Ia ingin ketemu kamu. Maka aku banyak bercerita tentangmu”.
“Huh, apa yang kau ceritakan? Paling-paling seorang mahasiswa kedokteran yang goblog dan ugal-ugalan. Malah nyeniman. Memotret kesana kemari, melukis, bikin patung dan puisi!”.

Sumi tertawa perlahan. Tapi kemudian muram. Wajahnya menunduk sambil berjalan. “Bukan. Seorang mahasiswa kedokteran yang penuh gairah hidup dan idealisme tinggi. Yang pandai berceramah dan mempesona. Yang bisa memberikan semangat hidup bagiku, tapi kemudian melupakanku selamanya”.

******

“Socrates adalah filsuf besar yang hidup 469 – 399 SM, yang terkenal dengan metode Socratiknya dalam mencari kebenaran. Yitu suatu sumber tenaga tanpa akhir atas pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk merusak sebuah posisi dengan menggunakan kata-kata dan pengakuan dari para filsuf sendiri. Iia memakai metode bertanya dalam studi filsafatnya. Pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang segala hal dalam kehidupan. Jawaban dari pertanyaan itu kemudian dipertanyakan lagi. Demikianlah semakin lama semakin meningkat. Untuk mencari inti kebenaran ilmiah”.

“Misalnya tentang penyakit jiwa. Nah, akupun akan memakai metode Socrates itu padamu untuk hal yang sangat ingin kuketahui”, kata Sumi sambil mengaduk sedikit gula batu pada secangkir kopi “klothok” hitam yang masih kebul-kebul kesukaanku. Cangkir dari tanah liat yang digletsir bikinan setempat. .

Aku duduk pada sebuah kursi bambu petung panjang di bawah pohon mangga di sudut halaman berumput yang luas rumah Sumiyati yang mungil. Rumah itu terletak ditepi jalan besar yang sepi membelah perkebunan sayuran dan strawberry. Sumi duduk di ujung kursi bamboo panjang itu disebelahku.

Di tengah halaman berumput di depanku ke tiga puluh empat pasienku duduk melingkar bernyanyi-nyanyi lagunya “Ungu”, “Niji” di seling lagu-lagu ndangdut yang mereka hapal benar. Para perawat duduk mengawasi pada selembar tikar di sudut sana. Tiga perawat laki-laki memainkan gitar dan ketipung. Bersemangat mengiringi pasien-pasien yang menyanyi gembira.

Tiga gadis pengurus kebun Sumi itu rupanya sudah mencari “bala bantuan” temannya, tiga cewek lagi untuk menyambut pasukanku. Mereka bernyanyi-nyani dan berjoget gembira bersama pasien-pasienku. Wagiman yang sudah menginap sehari-semalam disini telah menjadi “tuan rumah” yang keluar masuk menyuguhkan jagung godog, pisang dan kacang godog serta wedang jahe anget.

Pasien-pasien yang mulai lapar lagi setelah bekal nasi dos–dosan dari RSJ licin tandas di dekat gardu pandang Ketep sana tadi, melahap habis sajian ini. Hawa sejuk mendung berkabut memang memungkinkan kegiatan di halaman berumput ini berlangsung nyaman.

Diam-dian aku mengamati wajah Sumi yang sedang berdiri membungkuk disamping meja dari potongan kayu besar di depanku menyajikan piring-piring berisi bakwan dan tahu susur goring kesukaanku yang barusan dibelinya dari warung gorengan tetangga. Sumi yang sadar kuamati menjadi kikuk, tapi tersenyum samar. Wajah Dewi Ratih inilah yang kulihat pertama kali ketika aku membuka mata dari tidur pulas setelah alergi sambel walang yang hebat di Gunung Kidul 30 tahun yang lalu..

“Hmm. Kau selalu mengeruk aku dulu, seperti dulu tentang kesehatan lingkungan dan sanitasi. Sebelum memberikan ilmumu yang hebat itu”, desahku kesal.

Sumi terkikik, Lesung pipitnya yang kukenalm baik dulu itu kelihatan.

“Bukan begitu, Nuk. Tapi sudah lama aku ingin tahu tentang penyakit jiwa. Mengapa manusia yang semula baik-baik saja bisa menjadi hilang akal dan lupa pada lingkungan sekaligus lupa terhadap dirinya sendiri? Mengapa menjadi tertawa dan bicara sendiri seakan hidup di alam lain? Mengapa bisa membunuh orang tua atau anaknya sendiri tanpa sebab yang jelas? Apakah ini karena turunan atau memang takdirnya ia harus begitu? Mungkinkah ini diobati? Apakh masih bisa disembuhkan secara tuntas? Aku tahu hanya kau yang bisa menjawab dengan gamblang, Nuk”,.

“Padahal kau tak menduga akan ketemu aku lagi karena seperti katamu tadi aku telah melupakanmu. Wuah. Baiklah. Dulu, lebih seabad yang lalu, di jaman demonologi, orang berpendapat bahwa orang gila itu karena kemasukan atau dipengaruhi roh jahat, jin, setan, hal supranatural yang tak bisa disembuhkan sehingga mereka harus dikerangkeng seperti binatang dan bisa ditonton di taman-taman untuk mereka di Eropa”..

“Muncul Emille Kraepelin yang mulai berpendapat bahwa itu terjadi karena suatu kondisi otak tertentu yang mempengaruhi pikiran dan perilaku. Seperti Demensia yang datang awal. Karena itu disebutnya Dementia Praecox. He, Kraepelin, tokoh dunia psikiatri yang legendaris itu pernah berkunjung ke RSJ kuna tempatku bekerja itu lho”.

“Karena penyelidikan dan usul dialah pemerintah Hindia Belanda membangun tiga rumah sakit jiwa besar di Jawa. Yaitu di Bogor, Lawang, dan Magelang untuk menampung penderita gangguan jiwa berat yang ribuan jumlahnya di Jawa dan Bali waktu itu”.

Aku memasang sebatang kretek filter Gudang Garem di pipa cangklong gading warisan bapak, menyulutnya. Entah kenapa, dengan barang sialan pembawa petaka seperti itu aku merasa menjadi bapakku, sekaligus Sigmund Freud.

“Lalu, apa sebabnya faktor otak bisa menjadi gangguan seperti itu?”,

“Pertanyaan klasik, yang jawabnyapun klasik pula, Kausa-ignota alias belum diketahui. Hehehe. Sebabnya multi kompleks. Tapi kalangan psikiatri, seperti aku dan teman-temanku psikiater, biasanya menjawab dengan Tiga Lingkaran Berimpit yang misterius”.

“Dan apa itu Nuk? Ah, kau ini seperti dulu, selalu bikin penasaran orang!”,

Sumi cemberut. Dan aku tertawa gelak-gelak. (BERSAMBUN
pasien jiwa RSJ Magelang dalam Terapi Aktivitas Kelompok dipimpin perawat Kepala Bangsal Matswopati di RSJM, 2010 - dok.pribadi

Memang saya akui saya seorang perfeksionis, segala sesuatu harus sempurna bagi saya, demikian tulis saudara Al, seorang priya 37 tahun pada rubric kita ini. Ia keluar dari tempat kerjanya di satu perusahaan kayu lapis di Jakarta karena tidak cocok dengan situasi dan system kerja di kantornya yang acak-acakan, tidak ada aturan yang pasti dan target pencapaian tertentu.
Saudara Al pulang ke orang tuanya di Yogya, sedang istrinya yang minta cerai sementara pulang ke orangtuanya di Surakarta. Saudara Al tak mau menceraikan istrinya karena ia tak bisa hidup tanpa istrinya itu. Cuma mereka sering bertengkar karena Al punya tuntutan hidup yang tinggi, semuanya serba “harus” dan “seharusnya” sedang istrinya sebaliknya. Ingin hidup seadanya dan santai. Al juga tidak cocok dengan rekan-rekan kerjanya di Jakarta maupun teman-teman lamanya di Yogya yang hidup – menurut pendapatnya – tak karuan dan tanpa keharusan tertentu. ]
Al merasa dijauhi teman-temanya tapi baginya tak jadi soal karena ia ingin mencari lingkungan kerja yang sama dengan visi hidupnya, kesempurnaan dan keharusan mencapai kesempurnaan itu.

*******
Saya yakin bahwa saudara Al adalah orang yang cukup menderita dalam hidupnya akibat paradigma pikirnya sendiri. Segala sesuatu harus sempurna, dalam bekerja, hubungan interpersonal, hasil akhir, suasana kerja, adalah sesuatu yang ideal dan jelas baik. Sayapun dalam membuat tulisan-tulisan saya di rubric ini berusaha mati-matian untuk membuat yang sebaik-baiknya. Tapi kita tahu bahwa hidup ini sering tidak sempurna. Hidup ini sering tidak seperti yang kita harapkan. Kita sebaiknya bisa menerima hal itu bila kita tidak ingin frustasi sendiri.

Menginginkan segala sesuatu harus sempurna adalah sikap perfeksionis yang konotasinya sudah negative alias cenderung patologis. Orang perfeksionis cenderung untuk mengulang-ulang perbuatan yang bila tak terkendalikan bisa menjadi obsesif-kompulsif, suatu gangguan perilaku yang sukar diobati. Perfeksionis, selain sangat menghargai waktu, terburu-buru, cepat menyimpulkan dan mengambil keputusan, mempunayi “achievement” tinggi, adalah unsur dari Pola Perilaku Tipe A yang terbukti sangat erat kaitannya dengan hipertensi, serangan jantung dan stroke.

Saya harapkan saudara Al bisa mencermati kembali hidup dengan “harus” dan “seharusnya” serta sikap perfeksionisnya. Barangkali istri saudara Al juga tidak tahan karena disalahkan tiap hari dalam hal bekerja sebagai ibu rumah tangga, melayani suami, mengasuh dan mendidik dua anaknya. Tapi saudara Al tak mau menceraikan dia karena secara “unconscious” tahu bahwa ia tak bisa lagi mendapatkan wanita yang bisa serba “menerima” segala kelakuannya dan tuntutan-tuntutannya.

Orang yang menggunakan terlalu banyak “harus” dan “seharusnya” adalah orang yang sangat menuntut dan tidak menyenangkan. Ia membuat hidup tidak menyenangkan bagi diri sendiri maupun keluarga dan orang lain. Saya melihat banyak orang di ruang konsultasi yang menuntut dan bersikeras untuk hal-hal tertentu. Mereka biasanya mempunyai riwayat pekerjaan yang kurang baik, perceraian, tidak punya teman dan mempunyai banyak masalah dalam hidupnya sehari-hari.

“Harus” dan “seharusnya” dikenal sebagai pernyataan memaksa yang sering menciptakan kejengkelan, penyesalan dan rasa bersalah. Ketika seseorang bisa melepaskan tuntutan mereka, atau “kelekatan” terhadap tuntutan itu, hasil akhir yang lebih baik dan memuaskan sering kali malah terjadi.

Ubahlah kalimat “keharusan” ke kalimat permintaan atau pilihan. Misalnya berkata dengan keras “kamu harus bekerja dengan waktu lebih banyak!”. Anda dapat berkata dengan “ Saya harap kamu bisa menggunakan waktumu lebih banyak untuk bekerja”. Atau “Kamu tidak boleh merokok di ruangan ini’!’. Dan diubah menjadi “ Saya lebih suka bila kamu merokok di luar”. Bisa kita lihat nanti bahwa semakin sedikit kata “harus” dan “seharusnya” kita gunakan, akan lebih baik manfaatnya bagi kita sendiri, istri atau suami, anggauta keluarga kita dan teman-teman kita.

Jelas bahwa bukan kata “seharusnya” yang menciptakan masalah, tetapi tuntutannya. Tidak ada yang salah dengan berkata “Kau harus ingat untuk menulis resep dengan obat-obat generik jika kau ingin resep itu bisa terbeli oleh banyak pasien yang kurang mampu”,. Ini adalah “harus yang lembut”. Berbeda dengan harus yang menuntut.

Dalam harus yang lembut ada kata “jika” yang diikuti dengan konsekuensi spesifik. Lebih bagus lagi, cobalah menyruh tanpa menggunakan kata “harus” sama sekali. Seperti “ Usahakan untuk belajar 2 jam sehari ada ulangan maupun tak ada ulangan”.

Aturan-aturan pribadi yang berdampak besar bagi kehidupan ini pertama kali dikemukakan oleh psikiater termashur, Dr. Karen Horney yang menulis tentang “Tirani Harus”, sebuah tema yang kemudian dikembangkan oleh Dr. Albert Ellis di New York, yang mengeluarkan istilah “shoulding” (seharusnya) dan “musturbating” (keharusan) yang menekankan kekuatan merusak secara psikologis dari pernyataan pemaksaan seperti “harus” dan “seharusnya”.

Para ahli itu menyarankan agar kita berhenti mengatakan “harus” kepada orang lain dan diri kita sendiri dan sebanyak mungkin menghindari kata “seharusnya”.

Penggunaan kata “harus” dan “seharusnya” ini yang secara berlebihan kemungkinan besar menyebabkan istri saudara Al minta cerai dan Al terpaksa keluar dari tempat kerjanya, suatu perusahaan besar yang maju. Seorang pasien Dr Albert Ellis mengatakan di akhir sessi therapinya : “ Saya memutuskan untuk tidak lagi ikut campur dalam kehidupan orang lain. Saya membiarkan orang lain memutuskan apa yang seharusnya dan tidak seharusnya mereka lakukan”,.****

pasien jiwa RSJM sedang dilatih nembang Jawa dengan pitutur yang dijelaskan perawat jiwa di bangsal, 2010 - dok.pribadi

Apakah kepikunan itu bisa dicegah? Demikian tulis bapak Skm, seorang pensiunan PNS, usia 65 tahun, kepada rubric kita ini. Beliau sudah sering lupa dimana meletakkan kacamatanya, berapa jumlah uang di dompetnya, sudah mengambil pension atau belum, nama teman-teman sekerjanya dulu, dimana menyimpan dasi, sepatu atau buku tabungannya.

Karena makin lama makin berat, bapak Skm ini khawatir akan mengalami Alzheimer. Apakah hal ini bias dicegah atau diobati?

*******
Menurunnya daya ingat memang suatu kondisi alamiah dari proses penuaan.Tapi bila hal itu berlebihan atau cukup berat, kemungkinan individu tersebut mengalami suatu demensia, atau kepikunan, karena degenerasi sel-sel syaraf pusat (otak).

Demensia adalah gangguan intelektual yang progresif dan ireversibel yang meningkat prevalensinya dengan bertambahnya usia. Demensia yang banyak terjadi pada usia lanjut inilah yang disebut kepikunan. Berbeda dengan retardasi mental, funsi mental dan intelektual yang sebelumnya telah tercapai tinggi pada demensia ini secara bertahap akan hilang

Selain fungsi kognisi dan daya ingat juga fungsi bahasa dan visuospasial (pandangan ruang) akan menurun. Ditambah lagi terjadinya gangguan mental dan perilaku berupa agitasi, kegelisahan, ngeluyur tanpa tujuan, kekerasan, rewel atau berteriak-teriak, hilangnya pengendalian social dan seksual, impulsivitas, gangguan tidur dan waham (distorsi pikiran).

Demensia ada beberapa macam atau jenis, diantaranya yang paling sering terjadi dan paling berat adalah demensia tipe Alzheimer.
Penyebab kepikunan Alzheimer ini belum diketahui secara pasti.

Tapi pemeriksaan neuropatologi dan biokimiawi postmortem (pada mayat) menemukan adanya kehilangan neuron kholinergik selain adanya perubahan structural dan fungsional otak. Juga didapatkan penurunan girus pada lobus frontalis dan temporalis otak dan degenerasi serabut neurofibrilair.

Pencegahan maupun pengobatan demensia Alzheimer ini sangat sukar. Namun sekarang telah digunakan obat-obat ACE Inhibitor yang bias menghambat perkembangan demensia ini selain secara temporer bias memperbaiki daya ingat. Sayangnya obat-obat anti demensia ini relative mahal harganya dan harus dikonsumsi seumur hidup.

Pak Skm belum tentu mengalami demensia, apalagi Alzheimer. Tapi saya annjurkan beliau memeriksakan diri ke dokter spesialis syaraf (neurology) untuk tes-tes dan pemeriksaan lengkap demensia sekaligus mendapat obat-obatnya bila diperlukan.

Kira-kira 10-15% dari semua pasien demensia (umum) bias diobati penyakit fisiknya sebagai penyebab maupun demensianya sendiri. Penyakit fisik sebagai penyebab adalah misalnya penyakit jantung, penyakit ginjal, gangguan endokrin (hormonal) dan defisiensi vitamin.

Selain obat-obatan roboransia syaraf yang bias meningkatkan metabolisme otak maupun daya ingat, terbukti bahwa latihan otak secara fisik cukup bermanfaat untuk mencegah demensia secara umum.
Seperti fungsi fisif yang baik, inti kekuatan otak adalah pergerakan. Latihan yang teratur, senam mental, akan membuat pikiran lebih waspada dan cerdas serta terjaga dari proses penuaan.

Ada bukti yang menunjukkan bahwa orang yang pada masa tuanya menjaga aktivitas mental dengan cara menstimulasi dan menantang kemampuan intelektualitas memiliki kasus gangguan ingatan yang lebih rendah.

Setiap anda belajar sesuatu yang baru, bahkan sebuah kata saja, kualitas ujung sel syaraf akan berubah dan transmisi impuls syaraf meningkat.

Anda mungkin telah mendengar bahwa seumur hidup kita hanya menggunakan sebagian kecil dari potensi otak kita, maka jelaslah bahwa fungsi otak kita benar-nemar masih dapat berubah dan bahwa kita memiliki kapasitas otak yang luar biasa besar untuk belajar hal-hal baru. Inilah yang disebut neuroplasticity atau “kelenturan syaraf otak”.

Ada banyak latihan untuk otak dan pikiran sebagaimana program pembentukan tubuh dan otot. Beberapa aktivitas yang umum dilakukan adalah belajar bahasa, memperbanyak kosa kata, berbagai macam permainan mental, memahat, melukis atau berlatih main piano. Bahkan ada beberapa cara untuk melatih otak anda setiap hari.

Misalnya suatu ketika anda terjebak macet atau berada di antrean supermarket. Pelajari lingkungan secara aktif, sengaja berfokus pada orang,, tempat, atau obyek yang berada dalam jangkauan penglihatan anda.

Masuk ke sebuah ruang dan dengan hati-hati perhatikan jumlah orang, baju yang mereka pakai, penempatan meubel dan obyek lainnya.
Tulislah semua yang anda ingat dari sebuah kegiatan yang anda hadiri. Permainan seperti bridge, catur, teka-teki silang, puzzle, akan membuat otak anda tetap aktif.

Untuk hasil yang terbaik, gerakkan badan anda – seperti olah raga, peregangan, atau jalan-jalan – sebagaimana anda melatih otak.
Pekerjaan yang monoton dan berulang-ulang – misanya praktek dokter – bukanlah latihan otak dan latihan pikiran yang baik. Cobalah cari beberapa variasi dan stimulasi.

Misalnya seorang teman saya seangkatan di SMA, ia seorang insinyur sipil di perusahaan bangunan besar, setelah pensiun membuka biro konsultasi dan membikin perencanaan bangunan bandara, pelabuhan, dll. Kemanapun pergi ia membawa laptopnya untuk desain dan catatan-catatannya selain aktif fotografi.

melatih ingatan dan persepsi di mas angin ringin kurung alun2 kidul jogya 2010- dok.pribadi


Teman saya SMA yang lain, seorang dosen senirupa, setelah pensiun membuka kursus menggambar untuk lansia maupun anak-anak, selain rajin menulis makalah untuk ceramah-ceramah senirupa modern. Dan ia sendiri tiap Minggu melukis di alam bebas. Untuk kedua teman saya ini jelas tak akan sempat pikun dalam hidupnya.****

pameran senirupa surealis Bentara Budaya Jogya th 2008 - dok.pribadi

Tayangan video porno atau “mesum”, seperti yang mendominasi mass-media dalam 3 minggu terakhir ini sehingga “menutup” semua berita politik dan pemberantasan korupsi di tanah air, benar-benar mengerikan bagi anak-anak kita. Tak bisa dibayangkan bagaimana reaksi mental anak-anak kita bila melihat “adegan syur” laki-laki dan wanita dewasa itu di HP temannya.

Hak azasi anak yang ke-empat menyebutkan bahwa seorang anak berhak mendapat perlindungan dari segala bentuk eksploatasi, perlakuan kejam dan sewenang-wenang. Materi video porno yang dimasukkan internet yang dengan sendirinya mudah dilihat dan diunduh ke computer atau HP yang sudah dipegang sebagian besar anak-anak kita sejak SD merupakan “eksploatasi mental” yang dahsyat. Anak-anak menetima informasi audiovisual tentang seksual yang vulgar pada usia dan tahap perkembangan mental yang sama sekali belum siap untuk hal itu.

Batasan usia anak yang saya pegang adalah sampai 12 tahun. Menurut batasan WHO usia anak-remaja sampai 19 tahun. Pada usia sampai 12 tahun itulah dampak terdahsyat dialami anak menerima informasi video porno tersebut. Sedang sampai usia 19 tahun, anak remaja masih akan “terpukul” juga meski tidak seberat adik-adiknya.

Mungkin anak-anak itu semua pernah menerima “pendidikan seksual” juga di sekolah. Tapi jelas secara superfisial, secara “ilmiah” dan masalah seksual lebih sebagai fungsi reproduksi. Jauh dari nafas erotis dan nafsu. Yang dilihat dalam video itu jelas erotisme dari nafsu primitif manusia dari kegiatan seksual.

Saya bayangkan andai saya sendiri masih anak-anak melihat hal itu, tentu saya akan kaget dan termenung-menung, oh, ternyata seperti itulah laki-laki dan wanita itu? Harus seperti itukah manusia itu? Apakah aku harus begitu pula besok? Seperti itulah fungsi alat kelamin karunia Tuhan itu? Bukankah mereka itu tidak menikah atau kawin secara sah? Apakah yang hebat, atau yang baik, manusia itu harus bisa berperilaku seperti bintang-bintang idola itu? Bagaimana kalau aku tidak bisa seperti itu?

Inilah pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang menusuk-nusuk kalbu dan pikiran anak-anak kita yang sebut sebagai “eksploitasi mental” yang tak bisa dicegah atau dilawan dengan cara apapun. Anak-anak tidak mendapat perlindungan dari serangan informasi yang kejam dan sewenang-wenang ini.

Anak-anak juga berpikir, apakah orang tuaku juga seperti itu? Orang tua, bapak ibu, adalah figur-figur paling berpengaruh bagi anak. Bapak ibu adalah “miniatur dunia” bagi anak yang berarti juga satu-satunya dunia yang dikenalnya. Tempat dia tinggal, berlindung, mendapat perhatian dan kasih sayang. Dunia yang wajib dihargai dan dihormati.

Bagaimana bila orang tua ternyata juga berperilaku vulgar yang mengherankan seperti itu? Anak-anak belum cukup mempunyai pengalaman hidup yang mengisi status mental mereka untuk menerima hal itu. Dan tak cukup waktu bagi orang tua atau guru untuk menjelaskan secara bijak hal itu. Bahkan berpikirpun, atau berencana, untuk membahas hal itu dengfan anak-anak saya yakin tidak pernah.

Tak usah dibayangkan bagaimana dampak tayangan mesum itu bagi anak. Yang jelas nilai-nilai etika dan moral, pasti bergeser. Seperti juga tayangan sinetron-sinetron kita, bahwa dalam hal pacaran itu sudah biasa sampai ke hubungan seksual seperti suami istri. Bila tidak begitu bukan pacaran namanya. Dan bila sampai hamil duluan, itu juga biasa. Toh diakhir cerita nanti akan “hapy-ending”. Tak ada “punishment” sama sekali.

Banyak anak muda yang berkonsultasi pada saya karena belum punya pacar atau belum pernah berpacaran sama sekali. Atau pernah berpacaran tapi tak mau melakukan hubungan seksual sehingga pacarnya pergi. Apakah saya ini memang ada kelainan, dok?

*****

Tahun 2009 lalu Unit Tumbuh Kembang RSJ Magelang tempat saya bekerja menyelenggarakan seminar bertajuk “Anak-Anak Berkebutuhan Khusus”. Seminar ini merupakan upaya promosi dari program Tumbuh Kembang atau sekarang disebut Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja (Keswara) sebagai program “unggulan” dari RSJ kami.

Saya menjadi ketua panitia seminar itu dan harus menyusun sambutan pembukaan. Saya tak ingin menyambut secara klise. Sekadar basa-basi. Saya ingin memberi sambutan yang pendek, ringkas, tapi berbobot alias bermakna. Maka saya ingin kemukakan tentang ke-empat Hak Azasi Anak dan aplikasinya.

Sayangnya catatan saya tentang itu hilang. Saya bertanya ke semua teman psikiater dan psikolog tidak ada yang punya catatan dan tahu persis tentang ke-empat Hak Azasi itu.

Saya sedih. Bila kami saja yang berkerja di bidang pelayanan Tumbuh Kembang Anak tidak tahu ke-empat hal itu, lalu bagaimana orang-orang dewasa di luar sana? Maka saya hubungi teman saya Pramuka dulu, Sari Murti. Doktor sarjana hukum ini sekarang menjadi Ketua Lembaga Perlindungan Anak di Yogyakarta dan saya diberi “booklets” tentang Hak Azasi Anak itu. Saya susunlah sambutan saya dan supaya tidak hilang lagi, saya tulis saja sambutan saya itu di blog saya ini.

****

Saudara-saudara sekalian yang kami muliakan,
Setiap tahun kita memperingati Hari Anak Nasional maupun Hari Anak Sedunia dengan berbagai acara lomba, pentas seni, bazaar, pameran mainan anak, pemeriksaan kesehatan Balita yang meriah namun kita selalu lupa mengingat kembali dan mengemukakan secara verbal keempat hak azasi anak.

Karena selalu lupa akhirnya jadi tidak tahu, atau “sok tahu” dan akhirnya jadi tidak peduli apakah kita benar-benar sudah memenuhi keempat hak azasi anak itu, baik bagi anak-anak normal atau suhat maupun anak-anak yang “berkebutuhan khusus”.

Hak azasi untuk anak ini diakui dalam Konvensi Hak Anak yang dikeluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bansa tahun 1989, bahwa semua anak tanpa membedakan ras, suku bangsa, jenis kelamin, asal usul keturunan maupun bahasa, memiliki EMPAT HAK DASAR, yaitu :

1) Hak Atas Kelangsungan Hidup. Termasuk di dalamnya hak atas tingkat kehidupan yang layak, pelayanan kesehatan, mendapatkan gizi baik, dan tempat tinggal yang layak.

2) Hak untuk Berkembang. Termasuk di dalamnya hak untuk mendapatkan pendidikan, informasi, waktu luang, berkreasi seni dan budaya, juga hak untuk anak-anak cacat atau berkebutuhan khusus, dimana mereka berhak untuk mendapatkan perlakuan dan pendidikan khusus.

3) Hak Partisipasi. Termasuk di dalamnya kebebasan menyatakan pendapatnya sendiri, dan diikutsertakan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya.

4) Hak Perlindungan. Termasuk di dalamnya perlindungan dari segala bentuk eksploatasi, perlakuan kejam dan sewenang-wenang, dalam proses pengadilan maupun dalam hal lainnya, seperti mempekerjakan anak di bawah umur.

Keempat hak azasi anak ini berlaku bagi anak-anak normal dan sehat maupun anak-anak berkebutuhan khusus. Beberapa hari yang lalu saya memeriksa seorang anak hiperaktif di poli rawat jalan Pusat Pelayanan Tumbung Kembang Anak RSJ Magelang. Anak itu bergerak terus tidak bisa diam, merauk minuman saya, kertas-kertas di meja periksa, tapi wajahnya nampak sangat ceria dan berceloteh.

Dari ibunya saya tahu anak itu setiap hari dimasukkan ke kamar dan dikunci dari luar dari pagi sampai petang, karena bapaknya bekerja ke sawah dan selain itu juga berdagang dan ibunya berjualan di pasar dari pagi sampai sore, Anak-anak yang lain sekolah. Tentu saja di kamar itu tak ada alat bermain, buku dan alat gambar, ataupun bacaan komik.

Jadi pergi kontrol ke RSJ Magelang adalah satu-satunya kesempatan bagi anak itu untuk melihat dunia luar. Selain itu dia hanya mengintip dunia dari celah kordin dan jeruji kayu kamarnya yang sepi.

Ibu-ibu dan bapak sekalian yang kami hormati,
Berapa banyak anak hiperaktif yang mengalami nasib seperti itu? Suatu nasib yang terjadi paling realistis karena situasi kondisi sosial ekonomi keluarga? Berapa banyak anak autis yang sesungguhnya mempunyai kecerdasan rata-rata telah di “vonis” masuk SLB? Dan berapa banyak anak hiperaktif yang sesungguhnya mempunyai kecerdasan rata-rata, tapi karena dianggap mengganggu di kelas telah dipindah ke SLB?

Maka menjadi tujuan “tersamar” dari seminar ini, bahwa selain kita mempelajari bagaimana mengenali dan menangani sejak dini anak-anak berkebutuhan khusus ini, juga menyadarkan pada hati kita sendiri, apakah kita sudah memenuhi keempat hak azasi anak dari anak-anak yang kita tangani itu?****

HUMOR

Seorang ibu rumah tangga yang cerdas, Ny Ri, yang bekerja wiraswasta membantu suaminya usahawan tembakau dan sarang burung di Temanggung, menulis ke rubrik kita ini. Apakah memang humor dibutuhkan dalam kehidupan berumah tangga? Apakah humor itu menyehatkan?

Suaminya pekerja keras, tapi sangat pemarah dan mudah tersinggung. Mereka sering berselisih pendapat tentang cara mendidik anak dan berhubungan dengan tetangga. Demikian seringnya terjadi pertengkaran sehingga ancaman perceraianpun mulai muncul.

Suatu ketika sang suami ronda di kampung dan mabuk, berjalan-jalan di lorong kampung sambil berteriak-teriak tak karuan disaksikan orang banyak. Ny.Ri sangat malu tapi tak berani memperingatkan karena suaminya akan marah-marah esoknya. Maka Ny.Ri mengajak ibu-ibu tetangganya membeli sebotol miras yang murah dan mereka meminumnya sedikit di depan suami. Lalu mereka bergaya mabuk, berjalan sempoyongan dan bicara berceloteh. Sang suami tertawa ternahak-bahak, menghentikan semuanya itu dan, oke,oke, aku tak akan mabuk lagi, katanya.

Pada ketika yang lain suami membaca koran di teras depan rumah hanya dengan bercelana pendek bertelanjang dada. Ny.Ri itu sudah beberapa kali menegur hal itu malah diumpat-umpat. Akhirnya ibu itu dengan hanya bercelana pendek saja, tanpa baju hanya memakai kutang saja menyapu halaman depan rumahnya. Ini membikin kaget siapapun yang lewat dan kontan suaminya menariknya ke dalam rumah. Mereka tertawa-tawa dan sejak itu suaminya tak pernah bertelanjang dada lagi di luar rumah.

***********

Suatu ketika saya harus menyelenggarakan seminar dengan teman-teman saya para dokter ahli berbagai bidang di RSU swasta tempat kami bekerja. Panitia mengalami kebuntuan karena sedikitnya sponsor yang masuk. Akibatnya kami saling menyalahkan dalam rapat yang bertele-tele. Akhirnya saya katakan: “Oke, sekarang semua harus manut sama saya karena saya Menteri Kesehatan Khusus untuk Orang-orang gila”.
Kontan semua tertawa dan beramai-ramai mereka “menggarap” saya. Tapi saya balas dengan mengejek mereka masing-masing. Suasana buntu pun cair dan segar kembali. Akhirnya ide-ide mencari dana bermunculan dan seminarpun terlenggara dengan meriah.

Humor itu perlu untuk kesehatan. Orang bijak bilang humor itu menyehatkan. Tentu saja humor yang baik. Yaitu humor yang segar dan tidak melukai siapapun. Ini tidak mudah. Banyak orang yang, karena pembawaan, maunya membuat humor yang segar tapi selalu menyakiti orang lain. Akibatnya ia dijauhi teman-temannya. Orang harus berlatih untuk membuat humor yang sehat dan menyegarkan.

“Bila kau akan mengejek orang lain untuk humor, selalu ingatlah bagaimana perasaanmu kalau menerima ejekan seperti itu”, kata bapak saya almarhum di meja makan waktu saya masih klas VI SD. Atau dalam bahasa Jawa bapak mengatakan : “kudu mbok tepakna neng awakmu dewe”. Petuah ini saya praktekkan sampai kini dan hasilnya cukup bagus.

Membuat humor segar paling mudah adalah apabila kita menceritakan kekonyolan, kekurangan dan kegagalan kita sendiri. Bila saya menceritakan kegagalan saya mati-matian berlatih menyanyi yang akhirnya cuma ditertawakan pasien-pasien saya penyandang skizofrenia, padahal mereka mengajari saya menyanyi dengan nada suara yang pas dan gaya mirip artis, tentu membikin tawa segar siapapun yang mendengarnya. Juga bila saya ceritakan bagaimana saya pergi bersama istri ke mall dan pulang sendiri karena lupa dan istri ketinggalan di mall.

Humor-humor demikian menyehatkan, karena membuat kita bisa “mengambil jarak” atau “distansi” dengan kehidupan kita sendiri. Dengan keseriusan atau kerja keras dan usaha-usaha kita setiap hari. Dengan “distansi” kita bisa melihat kekonyolan kita sendiri, memberi kesegaran yang meredakan ketegangan dan stres akibat tekanan kehidupan.

Bukan berarti kita harus menjalani hidup ini sebagai dagelan, lelucon tanpa keseriusan dan kerja keras. Tapi dari celah-celah keseriusan dan kerja keras itu kita bisa mengambil sisi-sisi humor untuk mentertawakan diri kita sendiri. Orang yang bisa mentertawakan dirinya sendiri adalah orang yang benar-benar sehat jiwanya, tulis seorang guru besar psikiatri. Memang, orang-orang dengan gangguan paranoid adalah mereka yang tidak pernah bisa mentertawakan dirinya sendiri.

Arnold Lazarus, seorang psikoterapis dunia menyarankan, berusahalah untuk membawa diri anda dengan ringan, bahkan ketika sedang mengerjakan sebuah tugas yang serius. Rasa humor yang asli memungkinkan seseorang keluar dari keruwetan mental, melawan kebosanan dan bahkan menghindari depresi.

“Tertawa gembira” adalah obat kejiwaan. Para ahli biologi telah membuat hipotesis bahwa tertawa akan menstimulasi produksi katekolamin dan endorfin di otak, mempengaruhi kadar hormon yang berhubungan dengan kegembiraan, dan mengakibatkan meningkatnya ambang toleransi terhadap rasa sakit serta menguatnya sistem kekebalan tubuh.

Tapi kita harus tetap ingat untuk menghindari lelucon mengejek orang lain yang kita sendiri tidak mau menerima ejekan seperti itu. Humor ini akan menyakitkan dan menimbulkan permusuhan. Tingkah Ny Ri diatas adalah humor bagus yang tidak menyakiti suaminya tapi bahkan langsung menyadarkannya. Lelucon yang sarkastik, sinisme, juga tidak menolong tapi sebaliknya malah menimbulkan kebencian.

Janganlah bermaksud humor dengan menceritakan kehebatan, kesuksesan, atau teman-teman kita yang tokoh-tokoh penting dan acara-acara penting yang harus kita ikuti, karena hal ini sangat memuakkan selain membosankan. Sebaliknya permainan kata-kata dapat menjadi fantastis dan sungguh menghibur, seperti misalnya “plesetan gaya dagelan Jogya” yang termashur itu. Humor yang sehat dan segar akan membikin hidup lebih hidup. Membuat hidup bersama keluarga dan teman-teman kita lebih indah dan menyenangkan untuk dijalani.****
(Tulisan ini diilhami oleh perilaku teman-temanku Alumni SMA Teladan Jogya Angkt70 yang suka humor nhyek-nyekan, garap-garapan di mailist sebagai bukti perhatian dan kasih sayang> Ternyata itu sangat menyehatkan. Tertima kasih untuk semuanya.)

MAHASISWA COASS FK UGM BERSAMA PEMBIMBING HABIS PRAKTEK DI RSJM JUNI 2010

MAHASISWA COASS FK UGM BERSAMA PEMBIMBING HABIS PRAKTEK DI RSJM JUNI 2010

KRISIS MAKNA

Saya seorang priya, usia 45 tahun, berkeluarga dengan 3 anak, pengusaha bakpia dan makanan khas Jogya lainnya di Jogyakarta. Usaha bisnis yang telah saya jalani selama 20 tahun ini terbilang cukup aju. Tiap hari bus mini boks membawa bakpia dan makanan lain ke Klaten, Purworejo, Magelang, Salatiga, berjalan lancer. Demikian penjualan di dalam kota Jogya cukup sukses terutama di hari-hari libur iga hari.
Istri saya duduk di kasir, mengatur keuangan, dan mengendalikan para pegawai yang berjumlah 20 orang. Saya mampu membuka cabang dua tempat di penggiran kota Jogya. Dua cabang inipun sukses dengan adik-adik saya yang duduk di Kasir. Akhirnya tak ada lagi yang bisa saya kerjakan.
Saya sudah mempunyai apa yang saya cita-citakan waktu muda dulu. Bisnis yang maju, rumah dan mobil lebih dari satu, keluarga yang baik, karyawan yang rajin. Tak ada tantangan lagi bagi saya. Semua pekerjaan telah terbagi habis dan berjalan lancer. Saya lalu mengalami kejenuhan, dan kebosanan. Lalu sering berpikir apa arti hidup saya ini? Apa makna hidup ini? Dalam kejenuhan seperti itu saya lalu main judi dengan teman-teman pengusaha. Judipun tidak terus-terusan menghibur. Ada titik kejenuhannya juga. Dapatkah dokter memberi saran tentang makna hidup ini dalam pandangan dokter?

PEMBAHASAN

Salah satu penyakit kejiwaan di dunia modern adalah “penyakit makna”, atau “krisis makna”. Ini bisa menimpa orang yang gagal dalam hidupnya, maupun orang yang sangat sukses seperti anda. Kehidupan yang individualistik, sangat rasional dan monoton, kemajuan teknologi dan informasi yang pesat, perebutan kedudukan, persaingan kerja yang tanpa akhir, redupnya nilai humanistic, ajaran agama yang penuh dogma dan larangan, pencarian kekayaan yang tanpa henti, politik yang gegap gempita, akhirnya akan melemparkan individu dalam kekosongan. Kehampaan. Lalu kita bertanya, apakah arti hidupku ini?

Salah satu cara yang paling umum yang ditempuh oleh kita yang kehilangan makna ini untuk mencari keutuhan adalah mendalami agama atau nilai relijiusitas tertentu, atau obsesi terhadap kesehatan. Yang pertama, misalnya, banyak orang barat yang pergi ke timur untuk mempelajari meditasi, yoga, dan zen. Atau di negeri kita banyak uztad yang dipanggil berceramah di hotel mewah untuk kalangan atas. Yang obsesi pada kesehatan, tertarik pada setiap mode kesehatan, diet vitamin, dan latihan kebugaran yang dijejalkan pada kehidupan yang serba sibuk. Sementara itu, arus utama pengobatan modern bersifat sangat Newtonian. Tubuh dilihat sebagai suatu mekanisme, sebuah mesin gen yang diminyaki dengan baik, penyakit sebagai sesuatu yang harus dimusnahkan atau diobati, ketuaan dan kematian sebagai “cacat” atau “musuh” sistem tubuh.

Namun, beberapa dokter dan profesional di bidang kesehatan telah mulai melihat penyakit secara berbeda. Mereka menganggapnya sebagai jeritan tubuh dan pemiliknya agar mendapatkan perhatian dalam hidup kita yang apabila ditinggalkan akan mengakibatkan kerusakan permanen, ketidakseimbangan fisik, emosi dan spiritual, bahkan kematian. Mungkin sikap atau gaya hidup kitalah yang mengakibatkan timbulnya masalah, bukannya ketidakseimbangan kimiawi.

Sebagian besar penderitaan kita, bahkan kondisi fisik yang kronis, merupakan “penyakit makna”. Kanker, penyakit jantung, Alzheimer, dan gangguan lain yang mungkin didahului oleh depresi, rasa lelah, alkoholisme, dan kecanduan obat adalah bukti dari krisis kekosongan makna yang masuk ke dalam sel-sel tubuh kita. Pada akhirnya kematianpun dialami dengan rasa sakit dan kengerian, sebab kita tidak memiliki konteks makna untuk menempatkan akhir alamiah hidup ini. Tidak ada jalan untuk mati dengan damai, penuh rachmat dan berkah.

Nilai-nilai, hakekat, atau makna hidup inilah inti filsafat Victor Frankle, seorang psikiater besar dari Wina yang hidup di jaman Freud, seabad yang lalu. Ia disekap dalam kamp knsentrasi Nazi Jerman bersama seluruh keluarganya. Ia disiksa, dibiarkan kelaparan, disuruh kerja paksa, anak istrinya dibunuh. Tapi ia tetap hidup. Justru karena itulah ia menemukan makna hidupnya. Nazi Jerman boleh mengkerangkeng dia, menyiksa habis seluruh tubuhnya dan membunuh seluruh keluarganya, tapi mereka tak bisa mencengkeram jiwa dan pikirannya. Kebebasan jiwa dan pikiran yang melayang bebas bersama Tuhannya inilah makna hidup Victor Frankle.

Makna hidup bisa bersifat umum dan universal, tapi bisa pula sangat sederhana, unik, spesifik dan sangat pribadi bagi kita masing-masing. Menyembuhkan total seorang pecandu yang sudah menyuntik dirinya dengan heroin selama 12 tahun tentu suatu makna hidup yang sangat bernilai bagi saya. Demikian pula “menyadarkan kembali” pecandu overdosis yang sudah koma selama 3 jam. Atau berhasil menyambung kembali tangan putus yang sudah terlempar di jalan berdebu tentu makna hidup yang tak ternilai bagi sahabat saya Rahardian, si dokter bedah tulang yang hebat itu. Penghargaan orang, imbalan uang, penilaian atau ganjaran dari Tuhan tidak penting dalam konteks makna ini. Makna hidup adalah tanpa pamrih. Makna hidup adalah untuk makna hidup itu sendiri.

Jadi bila anda yang sukses dan berkecukupan kebingungan mencari makna hidup, cobalah mencari hal yang sederhana saja. Buatlah hidup anda berguna bagi orang lain. Kerjakanlah suatu pertolongan bagi orang lain yang sangat membutuhkan. Membelikan baju dan celana berikut uang saku bagi 50 anak panti asuhan yatim piatu tiga hari menjelang Lebaran mungkin bisa menjadi makna hidup yang sangat berarti bagi anda. Atau membiayai 70 anak dari Gunung Kidul yang putus sekolah untuk bisa melanjutkan pendidikan ke SMK-SMK di Jogya, berikut asrama dan biaya hidupnya, mungkin menjadi makna hidup yang tak ternilai. Tidak usah dengan wawancara atau pidato di TV sehingga orang lain tahu. Makna hidup sejati adalah yang tak diketahui orang lain, hanya anda sendiri yang merasakan, menghargai dan menikmatinya (inuwicaksana.blogspot.com)****

PAMERAN SENI FOTO AGUNG SUKINDRA
LOOK @ ME
WARGA ISTIMEWA DI DAERAH ISTIMEWA
23 – 30 Nopember 2009
Bentara Budaya Yogyakarta

Seni fotografi, dewasa ini sudah semakin dikenal sebagai suatu cabang seni yang mandiri, berdiri sejajar seni lukis dan seni patung. Seperti seni lukis yang lebih tua umurnya, seni foto juga menampilkan suatu ide, konsep, kesan dan pemikiran, bukan dari subyek-subyek yang “diciptakan”, tapi dari subyek-subyek yang telah ada di alam, subyek biasa dalam hidup keseharian maupun subyek yang unik dan “luar biasa” yang dipotret. Kejelian, kecerdasan, dan ketrampilan teknis si pemotretlah yang membikin subyek alamiah itu menjadi suatu gambar yang mengagetkan, membuka wawasan, menyodorkan suatu ide, pemikiran, atau konsep yang sebelumnya tak terpikirkan.
Bila demikian hal nya, lalu apa yang mau ditampilkan, atau ide dan konsep apa yang disodorkan pada kita, oleh bidikan lensa Agung Sukindra? Bukankah kaum gelandangan dengan kehidupannya telah ada sejak berabad lalu di sekitar kita? Saya memang menganjurkan Agung untuk tidak memakai judul pamerannya dengan “orang-orang gila” atau “edan” atau “kegilaan” karena, disamping mereka itu tidak semuanya menderita gangguan jiwa berat dan khronik, juga istilah itu menimbulkan stigma dan tidak manusiawi. Maka Agung memilih judul sederhana “Look @Me”. Sebuah foto sudah bisa berbicara banyak, dan jelas bukan tujuan Agung untuk mengolok-olok atau mengejek subyek-subyek fotonya itu.
Bidikan lensa Agung pada subyek-subyek yang sangat biasa dalam kehidupan kita ini menampilkan suatu kehidupan yang sangat unik, kegembiraan menerima kehidupan, mentertawakan diri sendiri, ketidakpedulian pada norma dan tatanan soail kiri kanan, dan hidup di alam pikirannya sendiri yang fantastis, keceriaan yang bebas tanpa ikatan dan rasa malu, asyik dengan “kenikmatan-kenikmatan”nya sendiri, tapi juga kesepian, acuh tak acuh karena tersingkirkan, dan sedikit kesedihan. Namun dari semua foto Agung ini, tak ada sebuahpun yang menunjukkan ekspresi kekhawatiran, atau wajah memelas untuk minta dikasihani. Gambar-gambar ini telah menusuk hati dan pikiran kita, menyadarkan kita, dan mau tak mau membuat kita berpikir : bagaimana mereka bisa hidup seperti itu?, bagaimana bila mereka sakit atau terancam bahaya, bagaimana mereka bisa mendapat makanan yang cukup dan sehat?. Apakah mereka perlu ditolong, mengapa kita diam saja melihat mereka itu? Bagaimana cara menolongnya dan siapa yang berkewajiban menolong? Atau mereka dibiarkan begitu saja menikmati hidupnya sendiri?
Adalah hak azasi manusia untuk mendapatkan pendidikan, pelayanan kesehatan dan jaminan keamanan. Tapi juga hak azasi manusia untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri, dan menggelandang adalah pilihan hidup yang tak bisa dilarang. Kontroversi ini menyeruak dan membuat kita berpikir terus menerus, dan dilihat dari sudut ini, pameran seni foto Agung Sukindra ini, sangat berhasil.
Sebagai seorang sekretaris Himpunan Seni Foto Amatir (HISFA) Yogyakarta tahun 1975 sampai 80 an, saya bisa merasakan betapa sulitnya mengambil foto orang-orang gelandangan ini. Harus mencari subyek foto yang tidak mudah. Harus mencari waktu dan sinar yang tepat. Sore atau senja, malam hari, atau pagi hari dengan sinar condong sebelum jam 9.00. Atau justru siang hari bolong jam 12.00 untuk mendapat efek tertentu. Sudah mendapat waktu yang tepat, subyeknya berpindah tempat atau malah hilang. Harus duduk memegang kamera berlama-lama supaya subyek merasa “familiar” dan tidak “acting”, kemudian bila subyek sudah dalam gerak yang alamiah, dengan ekspresi yang diharapkan, tombol kamera ditekan pada detik yang tepat. Masih harus dipertimbangkan pula komposisi subyek dengan bangunan disekitarnya, detil-detil latar belakang subyek. Garis-garis geometris, atau lengkung, dan warna-warnanya. Jelas dibutuhkan kesabaran yang luar biasa, selain waktu dan enerji yang sangat banyak, Berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan berkeliling ke sudut-sudut kota.
Dengan penilaian Salon Foto tahun 70an, banyak foto-foto ini harus didepak keluar. Tapi dunia fotografi berkembang pesat, dengan munculnya aliran Candid Photography, Journalism Photography, Human Interest, Thematic Photography. Dan Detailing Photography yang di Indonesia dipelopori oleh sahabat saya Agus Leonardus. Untuk aliran-aliran ini tema, pesan, ide, ekspresi menjadi nomor satu. Sedang keindahan komposisi, penyinaran, ketajaman, dan teknis foto “salonis” menjadi nomor dua. Maka foto-foto ini yang didepak keluar oleh yuri “salon foto” justru akan mendapat nilai tinggi dan acungan jempol. Dari kalangan seniman foto kawakan, saya yakin Agus Leonardus lah yang pertama-tama akan memuji foto-foto Agung Sukindra ini.
Mr Robert De Niro adalah julukan yang saya berikan untuk gelandangan yang selalu telanjang dan berdaki tebal di sudut jalan samping pasar Popongan di kampong saya. Oleh bidikan lensa Agung, dia ditampilkan close up dengan latar belakang gelap dan side lighting, tatapan mata tajam dan rahang keras mirip ekspresi wajah Bethoven, atau Sigmund Freud, atau filsuf dan pemikir kenamaan lainnya. Siapa mengira bahwa wajah close up itu adalah wajah gelandangan yang telanjang, ceria menyanyi-nyanyi sambil mengais-ngais sampah di sudut pasar dekat rumah saya? Bidikan lensa Agung juga masih mempertimbangkan norma kesopanan ketimuran dan etis kemanusiaan dengan menampilkan gelandangan telanjang wanita dari belakang. Ketelanjangan yang kita lihat sehari-hari itu menjadi mengejutkan dan miris setelah ditampilkan dalam foto polos ukuran besar. Dan kita terpaksa tersenyum melihat foto gelandangan laki-laki telanjang yang sedang kencing sambil membawa sebatang rokok mepet di dinding tembok.
Agung mencetak sendiri foto-foto nya, hitam putih maupun warna. Sebagai anggauta HISFA di tahun 75 an yang juga mencetak sendiri foto-foto karyanya dengan alat bekas, saya bisa membayangkan betapa sulitnya mengatur warna untuk cetakan-cetakan besar ini. Cetakan foto dengan penyinaran alami. Tak usah dibandingkan dengan foto-foto portrait keluarga yang dihasilkan studio foto dengan penyinaran buatan yang diatur tepat. Foto-foto di alam bebas dengan penyinaran apa adanya ini jauh lebih hidup dan menampilkan greget dari penyinaran buatan yang bagaimanapun indahya. Saya bisa membayangkan juga berapa banyak cetakan yang gagal. Dan Agung menempel-nempelkan cetakan gagal ini menjadi mozaik close up manusia yang justru ekspresif bervariasi. Saya melihat tak ubahnya wajah-wajah teatrawan, ilmuwan, filsuf, pemikir, seniman dengan ekspresinya karakternya masing-masing. Bila hanya ekspresi wajahnya yang ditampilkan, ternyata mereka tak ada bedanya dengan orang-orang yang berprestasi tinggi di masyarakat itu. Dan mereka adalah orang-orang yang hidup di sekitar kita. Mereka berhak hidup di kota budaya yang ramah dan murah meriah ini. Saya tidak melihat garis-garis mimik dan sinar mata yang menunjukkan mereka adalah orang-orang yang mengalami gangguan jiwa. Mungkin untuk maksud ini pulalah Agung menampilkan foto-foto karyanya.

**************
Tulisan dan diskusi ini juga merupakan “pertanggungjawaban ilmiah” dari pameran seni foto yang mengambil subyek gelandangan atau “orang gila” ini. Di bidang psikiatri (kedokteran jiwa) “gelandangan” adalah orang yang hidup bebas berjalan mengembara tanpa tempat tinggal yang wajar dan tetap, tdidak mengindahkan norma-norma dan tatanan social. Mereka dibagi dua : gelandangan psikotik, yaitu gelandangan yang menderita gangguan jiwa berat dan khronik (psikosis); dan gelandangan non psikotik, yaitu gelandangan yang tidak mengalami gangguan jiwa berat dan menggelandang karena pilihan hidup.
Di Negara-negara barat, Amerika dan Eropa, orang yang menganggur tanpa penghasilan ini mendapat jaminan hidup dari pemerintah. Mereka tinggal dalam panti-panti sosial, toh masih banyak juga yang hidup di tepi-tepi jalan atau di bawah jembatan. Di negeri kita, bantuan pemerintah ini lewat instnasi-instansi pemerintah seperti Dinas Sosial dan RSJ. Yang telah dikerjakan selama ini adalah “penggarukan” gelandangan secara berkala oleh Dinas Sosial, kemudian dibawa ke RSJ-RSJ setempat, diperiksa dan diseleksi, yang mengalami gangguan jiwa berat dipondokkan dan diobati jangka panjang, yang tanpa gangguan jiwa di bawa Dinas Sosial untuk dimasukkan panti-panti social (Panti Karya) milik Dinsos. Oleh Dinas Sosial mereka mendapatkan surat keterangan untuk mendapatkan Jamkesmas (Jaminan Pelayanan Kesehatan untuk Orang Miskin) atau SKTM (surat keterangan tidak mampu). Dengan demikian mereka akan mendapatkan pelayanan kesehatan yang cukup bagus dan adekuat, secara gratis. Pelayanan kesehatan ini sampai tindakan-tindakan medis yang berjuta-juta taripnya, fasilitas-fasilitas perawatan yang memadai, sampai pemondokan Klas III di RSJ yang berbulan-bulan bahkan tahunan.
Hal yang nampak cukup ideal ini pada kenyataannya tidak demikian. Program penggarukan yang sharusnya berkala ternyata hanya dikerjakan setahun sekali dan itupun tidak menangkap seluruh gelandangan di pelosok kota dan pedesaan. Hanya sedikit gelandangan yang digaruk, dan itupun setelah diserahkan RSJ dan dirawat sampai “sembuh sosial” beberapa bulan, Dinas Sosial tak bisa mengambilnya kembali dengan alasan Panti Sosial nya penuh. Dinas Sosial selalu menambah-nambah jumlah gelandangan yang dimsukkan RSJ tapi jarang bias mengambilnya kembali, sehingga bangsal klas III RSJ selalu penuh gelandangan yang sakit jiwa maupun yang sudah siap untuk dikembalikan ke masyarakat.
Permasalahannya selalu saja, minimnya dana atau anggaran untuk mengurus gelandangan ini. Panti-panti kerja Dinsos selalu kecil sejak dulu, tanpa pengembangan, dan tak pernah cukup menampung gelandangan-gelandangan di kotanya. Sedang RSJ tidak berhak “menjumput” mereka dari jalanan dan melepaskannya kembali di jalan-jalan bila sudah disembuhkan secara social. Harus Dinas Sosial, atau LSM, yang memasukkannya ke RSJ dan mengambilnya kembali bila sudah baik. Bila Dinas Sosial mampu membikin panti-panti narkoba di tiap-tiap propinsi dengan dana milyaran dan eksklusif, meski dengan bantuan BNN, mengapa Dinsos tidak bisa memperluas atau membangun panti kerja yang cukup untuk para Tuna Wisma ini? Nampaknya masalah gelandangan masih dikesampingkan, untuk tidak mengatakan diremehkan, dibanding narkoba yang mengancam generasi muda. Selain itu, cukup banyak LSM-LSM yang mengurus pendampingan dan penyembuhan pecandu narkoba, tapi mengapa sangat sedikit, hampir tak ada, LSM yang mengurus masalah gelandangan atau Tuna Wisma ini?
Seberapa besarkah perhatian Pemda untuk kaum Tuna Wisma dikotanya? Mengingat dana bantuan pelayanan kesehatan dan bantuan sosial dari pemerintah yang berasal dari dana kompensasi BBM yang telah masuk dalam RAPBN cukup besar jumlahnya, dan sebagian sudah diserahkan masing-masing Pemda untuk masyarakat kurang mampu di daerahnya. Tapi yang muncul selalu saja kurang dan minimnya dana bantuan dan jaminan sosial. Masih juga menjadi pengetahuan umum bahwa tiap-tiap Pemda yang ingin mendapat Piala “kebersihan dan keindahan kota” selalu mengadakan garukan gelandangan mendadak dan membuangnya di pinggiran kota lain didekatnya menjelang penjurian.
Barangkali persoalan krusial macam inilah, yang cukup menggelitik dan menohok, yang ingin ditampilkan Agung lewat foto-foto “Look At Me” ini. Dan bila sebuah kritik terlontar dalam buku tamu, bahwa “Agung hanya mengamati, dan tidak terlibat”, maka sayapun bisa mengingatkan, bahwa seorang seniman tak perlu terlibat dengan subyek seninya. Agus Leonardus yang memotret kehidupan tukang becak tak perlu ikut-ikutan menarik becak, dan Affandi tak perlu ikut menyabung ayam atau mendanai sabungan ayam di Bali. Agung cukup mengamati berjam-jam, menghayati subyek seninya, lalu membidik dan menjepret, dan menohok serta membuka pikiran kita dengan foto-foto LOOK @ ME nya.****

Dr. INU WICAKSANA, SpKJ, MMR.
Psikiater di Rumah Sakit Jiwa Magelang

CENDANA SMART MIND CENTRE
inuwicaksana.blogspot.com

“veritas von liberabit”
kebenaran akan membebaskanmu

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.